BANGKA BELITUNG, BN NASIONAL.
DIRJEN BIMBINGAN Masyarakat Buddha, Kemenag RI, Drs. Supriyadi, M.Pd menghadiri ritual pergantian arca Dewa Kwan Tie di Kelenteng Kwan Tie Miaw Sungailiat, Bangka Belitung, Sabtu (2/12/2023).
Kelenteng yang berdiri pada tahun 1887 tersebut merupakan klenteng tertua di Sungailiat. Arca yang d iganti merupakan arca berbahan kayu yang sudah berusia 15 tahun dan mulai keropos. Arca yang baru terbuat dari bahan perunggu dan di pesan langsung dari China.
Dalam kesempatan tersebut, Supriyadi mengapresiasi kerukunan umat beragama di Bangka Belitung. Dia mengatakan, keharmonisan antarumat beragama di daerah tersebut sangat baik.
“Tadi sudah d ibuktikan dalam kegiatan ini yang hadir tidak hanya umat Buddha saja. Tapi ada agama lainnya. Data data kami juga Bangka Belitung ini memiliki keberagaman yang sangat baik sekali,” kata Supriyadi.
Dia berharap, keharmonisan tersebut dapat terus d ijaga dalam menyambut pesta demokrasi yang akan segera bergulir pada Pemilu 2024.
“Keharmonisan ini tentunya dapat d iterus d ijaga dalam menyambut pesta demokrasi yang tak lagi akan segera bergulir pada Pemilu 2024. Menurut Supriyadi, menjelang Tahun politik nanti, nilai kebijaksanaan, keadilan harus terus d ikedepankan sehingga dapat tercipta Pemilu damai,” ujarnya.
Selain itu, Supriyadi juga berharap, umat Buddha di Bangka Belitung dapat lebih meningkatkan lagi ketakwaan dalam beribadah.
“Lebih semangat lagi meningkatkan ketakwaannya. Karena ini adalah lambang dan karena rusak harus d igantikan. Setelah d iganti ke depannya orang semakin semangat untuk beribadah,” harapnya.
Sementara itu, Dewan Pembina Yayasan Dharma Bakti Abdi Sungailiat, Bambang Patijaya, SE, MM., mengatakan, ritual pergantian arca ini merupakan wujud rasa syukur yang menjadi proses kesinambungan dalam beribadah pasca d ilanda Pandemic Covid 19 yang berlangsung 2.5 tahun.
“Ini wujud syukurlah saja. Proses kesinambungan dalam beribadah. Bentuk syukur kita setelah d ilanda Covid 19 selama 2.5 tahun. Dan kita menuju arah yang lebih baik lagi,” kata Bambang Patijaya.(*)






