opini: Devi Valeriani (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bangka Belitung)
Dinamika pertimahan sepanjang Tahun 2024, mulai dari isu 271 Trilyun hingga 300 Trilyun, memberikan dampak yang sangat signifikan bagi perekonomian Bangka Belitung. Diantara dampak tersebut yang sangat terlihat adalah angka pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung yang cenderung mengalami perlambatan. Pelemahan sektor utama logam dasar timah yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung pada triwulan I 2024 tumbuh 1,01% (yoy), meningkat sedikit pada triwulan II menjadi sebesar 1,03 %. Kondisi perekonomian Bangka Belitung salah satunya tercermin dari nilai ekspor komoditas Timah yang dilakukan setiap bulannnya. Karena Komoditas Timah dari Tahun 2023 mendominasi ekspor sekitar 80 % dari total ekspor Bangka Belitung. Tercatat pada Bulan Januari 2024 nilai ekspor hanya 29,79 juta dolar Amerika Serikat, atau turun 82,55 persen dibandingkan Desember 2023 mencapai 170,64 juta Dolar AS. Disinyalir penurunan ekspor ini, karena tidak adanya ekspor timah selama Januari 2024.
Kisruh masalah PT Timah dengan pihak mitra menjadi salah satu pemicu menurunnya ekspor timah. Kita sama sama memahami bahwa Pertumbuhan ekonomi Babel hampir 80 persen masih didorong oleh konsumsi. Masyarakat yang bekerja secara langsung maupun tidak langsung terhadap aktivitas penambangan timah, pasti akan terdampak secara ekonomi ketika terjadi guncangan masalah pertimahan di Bangka Belitung. Dengan kondisi permaslaahan Timah saat ini sangat berdampak secara ekonomi, yaitu berkurangnya pendapatan tenaga kerja yang bekerja pada mitra PT Timah atau smelter. Kita bisa mengasumsikan berdasarkan data terdapat 33 smelter dan 30 eksportir Timah di Bangka Belitung, dengan jumlah variative tenaga kerjanya. Sehingga sangat terdampak signifikan ketika goncangan terjadi pada bidang pekerjaannya terhadap tenaga kerja. Keadaan ini menjadi salah satu penyebab terbentuknya pengangguran di Bangka Belitung.
Rangkaian dampak ekonominya adalah penurunan bahkan kehilangan pendapatan, tidak hanya berujung terhadap rendahnya daya beli, bahkan berdampak kepada angka putus sekolah dan tingkat kriminalitas cenderung meningkat. Masyarakat dalam hal ini tenaga kerja yang mengalami PHK tentunya memiliki tanggung jawab bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan bagaimana menyelesaikan kredit jika memiliki hutang. Rendahnya daya beli berarti rendahnya konsumsi, yang sangat beririsan selanjutnya dengan produksi. Konsumsi dan produksi merupakan komponen output dari PDRB ataupun pertumbuhan ekonomi. Hal ini dimaknai bahwa semua akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Kementrian pariwisata dan Ekonomi Kreatif terus mengakselerasi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif guna memacu kebangkitan ekonomi, termasuk di Bangka Belitung. Aksebilitas dan atraksi adalah tantangan utama pariwisata di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, untuk itu perlunya peningkatan konektivitas transportasi dan inovasi atraksi wisata untuk menarik tingkat kunjungan wisatawan. Pengelola usaha pariwisata dan dinas terkait harus membaca tren berwisata saat ini yang mayoritas nya adalah generasi Z dan millenial sehingga perlu direspon sesuai kebutuhan mereka. Selain itu, sosial media, konten dan film dapat menyasar golongan digital savvy dan generasi muda untuk membuat mereka tertarik berkunjung ke Bangka Belitung. Selain sektor pariwisata, sektor pertanian juga merupakan sektor yang selalu mengalami pertumbuhan dan memberikan kontribusi tertinggi pada triwulan I dalam pembentukan PDRB Bangka Belitung. Artinya hal tersebut dimakanai bahwa ada potensi kuat untuk Bangka Belitung dalam pengembangan sektor pertanian, yang didalamnya termasuk perkebunan dan perikanan.
Harapannya dengan penguatan sektor pariwisata, sektor pertanian dan penataan kembali dinamika pertimahan di Bangka Belitung, akan mampu mengungkit kembali pertumbuhan ekonomi daerah.





