Perburuan barang murah bukan lagi kebiasaan sementara yang lahir dari inflasi; ini telah menjadi bagian permanen dari cara orang Amerika berbelanja.
getty
Setelah beberapa tahun mengalami pemulihan pascapandemi, pembeli Amerika akhirnya menunjukkan tanda-tanda melambat pada musim liburan ini. Hari-hari pertikaian mengenai perusak pintu sudah lama berlalu karena orang-orang memilih untuk berhenti sejenak sebelum membeli dan berbelanja dengan tujuan tertentu, bukan berlebihan. Hasilnya adalah musim yang tidak dibentuk oleh dorongan hati dan lebih banyak ditentukan oleh niat.
Harga-harga belum melonjak secara dramatis pada tahun ini, namun tingginya biaya yang terjadi pada barang-barang penting seperti makanan, bahan bakar, dan perumahan mengubah cara berpikir rumah tangga mengenai pengeluaran yang bersifat diskresi. Meskipun pembeli masih datang ke toko, mendekorasi rumah, dan bertukar hadiah, mereka melakukannya secara sadar dengan fokus yang lebih tajam pada nilai dan makna. Bagi banyak orang, kebahagiaan liburan kini datang dari kesengajaan: memilih pengalaman yang menyatukan orang-orang, mengalokasikan anggaran secara strategis, dan menemukan kepuasan dalam memanfaatkan setiap uang yang dikeluarkan.
Apa yang muncul adalah kepercayaan konsumen jenis baru, yang berakar pada kepraktisan dan berpusat pada manusia. Menurut Laporan Belanja Liburan terbaru JLL tahun 2025, ada lima tren utama yang membentuk cara masyarakat Amerika menyambut liburan tahun ini. Bersama-sama, keduanya mengungkapkan banyak hal tentang masa depan ritel, pengalaman, dan perilaku belanja.
1. Anggaran Liburan Menyusut 10% Seiring Dengan Masuknya Realitas Ekonomi
Inflasi akhirnya berhasil diatasi dan masyarakat Amerika mulai menyesuaikan kebiasaan belanja mereka. Anggaran liburan rata-rata turun sekitar 10% dibandingkan tahun lalu, dengan banyak pembeli yang mengurangi kategori seperti makanan, dekorasi, dan hiburan untuk melindungi hal yang paling mereka pedulikan: pemberian hadiah.
Hadiah mencakup lebih dari separuh pembelanjaan yang diantisipasi, sementara kategori perayaan dan pengalaman mencakup sisanya. Pergeseran ini menandakan sesuatu yang penting: kemurahan hati masih menentukan liburan, bahkan ketika keluarga menghabiskan waktu dengan lebih hati-hati. Ini mencerminkan pendekatan perayaan yang lebih penuh perhatian yang mengutamakan makna daripada kelimpahan.
2. Waktu Tinggal Sama dengan Dolar
Bahkan dengan anggaran yang lebih sedikit, waktu tetap menjadi salah satu pendorong paling kuat kinerja ritel. Pembeli yang berada di toko lebih lama akan terus berbelanja lebih banyak, dengan mereka yang menjelajah lebih dari 90 menit menghasilkan pendapatan 79% lebih banyak dibandingkan mereka yang menghabiskan waktu kurang dari 30 menit. Waktu tinggal (dwell time) sangat relevan bagi pembeli berpendapatan tinggi dan Gen X, yang biasanya mempunyai kemampuan untuk membelanjakan lebih banyak.
Bagi pengecer, hubungan antara waktu dan transaksi bersifat intuitif dan dapat ditindaklanjuti. Ketika orang berlama-lama, mereka cenderung menemukan sesuatu yang tidak terduga, menikmati makanan, atau terpengaruh oleh lingkungan di sekitar mereka. Faktanya, lebih dari 70% pembeli berencana berpartisipasi dalam dua atau lebih pengalaman liburan, termasuk bersantap di luar dan pergi ke bioskop. Menyediakan alasan untuk menginap, seperti area pengisian daya ponsel dengan tempat duduk yang nyaman, WiFi gratis, tampilan menarik, musik meriah, dan pilihan makanan dan minuman yang menarik, dapat mengubah berbelanja dari tugas rumah menjadi pengalaman yang diterjemahkan menjadi penjualan.
3. Toko Tetap Menjadi Pusat
Terlepas dari kemudahan e-commerce, tidak ada yang bisa menggantikan pengalaman liburan di dalam toko. Lebih dari 80% konsumen berencana berbelanja langsung tahun ini, biasanya menggabungkan riset digital dengan kunjungan ke toko untuk membandingkan produk, memastikan kualitas, dan menikmati suasana musiman.
Pedagang massal telah mendapatkan kembali peran mereka sebagai tujuan belanja teratas pada tahun 2025, yang mencerminkan fokus baru konsumen pada nilai, kenyamanan, dan efisiensi. Banyak pembeli merencanakan lebih sedikit pemberhentian, memilih satu atau dua pengecer terpercaya yang memenuhi sebagian besar kebutuhan mereka. Pola pikir yang sama juga berlaku untuk pembelanjaan mandiri: semakin banyak pembeli yang berencana untuk tidak melakukan pembelian pribadi sama sekali, dan menghemat sumber daya mereka untuk orang lain.
Hal ini menunjukkan bahwa toko masih memiliki peran sosial dan emosional yang tidak dapat ditiru secara online. Dari pembungkusan kado hingga musik liburan, orang-orang tetap tertarik pada pengalaman yang terasa nyata. Pengecer yang berinvestasi dalam koneksi tersebut akan merasakan manfaatnya baik dalam loyalitas maupun pembelanjaan.
4. Pembeli Kurang Fokus Pada Dirinya Sendiri
Pemberian hadiah diri sendiri, yang pernah menjadi ciri khas perilaku liburan modern, kini jelas-jelas mengalami penurunan. Seperempat konsumen berencana untuk tidak melakukan pembelian pribadi pada tahun ini, dibandingkan dengan hanya 17% pada tahun 2024. Barang elektronik dan pakaian jadi—dua kategori pemberian hadiah mandiri yang populer—telah mengalami penurunan terbesar, sementara kartu hadiah meningkat menjadi 43,4%, mencerminkan pendekatan pemberian hadiah yang lebih pragmatis dan fleksibel.
Pergeseran ini mencerminkan penyeimbangan kembali prioritas ketika rumah tangga kembali fokus pada pengalaman bersama dan kembali ke pemberian hadiah tradisional. Konsumen menunjukkan bahwa mereka bisa bermurah hati tanpa harus memanjakan. Bagi pengecer, ini berarti menyoroti nilai emosional dari pembelian, bukan hanya label harga.
Bersandar pada sentuhan manusia, seperti menyiapkan stasiun bantuan saat liburan untuk memberikan rekomendasi hadiah cepat dan layanan belanja pribadi, dapat membantu mengurangi kelelahan dalam mengambil keputusan dan membantu pembeli yang memiliki keterbatasan waktu.
5. Berburu Kesepakatan Menjadi Cara Hidup
Perburuan barang murah bukan lagi kebiasaan sementara yang lahir dari inflasi; ini telah menjadi bagian permanen dari cara orang Amerika berbelanja. Diberdayakan oleh teknologi dan perbandingan harga real-time, pembeli kini merencanakan pembelian berdasarkan acara penjualan, melacak diskon di seluruh saluran, dan selalu mengutamakan nilai. Lebih dari 70% konsumen menempatkan harga dan penjualan yang rendah sebagai prioritas utama mereka, dan lebih dari 60% mengatakan mereka mencari penawaran yang lebih banyak dari biasanya.
Waktu juga penting. Konsumen beralih ke tanggal mulai yang lebih lambat, sering kali menunggu kesepakatan yang lebih baik atau mengelola arus kas dengan lebih hati-hati sebagai respons terhadap tekanan ekonomi yang sedang berlangsung. Hanya 27,7% pembeli yang berencana memulai pembelian saat liburan sebelum bulan Oktober tahun ini—turun dari 41,1% pada tahun 2024.
Pengecer yang dapat menyeimbangkan harga yang kompetitif dengan pengalaman yang bermakna akan mampu menangkap konsumen yang sadar anggaran dan loyal terhadap merek. Tantangannya adalah memastikan konsumen merasa percaya diri dan puas dengan cara mereka berbelanja.
Pengeluaran Dengan Tujuan Untuk Liburan Dan Selebihnya
Ketika musim liburan tahun 2025 beralih dari kelimpahan ke belanja strategis, konsumen membuktikan bahwa mereka dapat merayakannya dengan bermakna sambil tetap memperhatikan keuangan. Melakukan pembelian yang bijaksana, tetap terhubung dengan ritel fisik, dan mencari nilai dalam segala hal menandakan pasar yang semakin matang. Ketika pembeli menjadi lebih sadar, mereka juga menjadi lebih terlibat, dan rasa percaya diri seperti itulah yang akan dirasakan setelah masa liburan.
BN Babel






