Impor BBM RI Akan Berkurang Dengan Peningkatan Kilang Terbesar di Indonesia

JAKARTA, BN BABEL – Pemerintah terus melakukan upaya-upaya untuk mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk penggunaan dalam negeri, salah satu langkahnya dengan meningkatkan kapasitas kilang.

Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) yang merupakan pengembangan Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur mulai dikembangkan sejak tahun 2016 dengan peningkatan 100 ribu barrel oil per day (BOPD) dari 260 ribu BOPD menjadi 360 ribu BOPD.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, proyek ini sudah mencapai 91 persen dan mulai beroperasi penuh pada September 2025.

“Sekarang semuanya sudah terbangun, jadi tinggak finishing saja. Progres sekarang 91 persen lebih, tapi untuk mencapai 100 persen butuh waktu dan ada tantangan yang harus diselesaikan,” kata Arifin usai mengunjungi RDMP Balikpapan, Minggu (11/8/2024).

Selain menambah produksi, RDMP Balikpapan juga meningkatkan kualitas BBM dari yang sebelumnya standart Euro II menjadi Euro V yang lebih ramah lingkungan.

Baca juga  Pj. Gubernur Ridwan Djamaluddin Dampingi Dewan Komisaris MIND ID Tinjau Ausmelt PT Timah di Muntok

Proyek ini menelan biaya senilai US$7,4 miliar yang terdiri dari pembiayaan ekuitas senilai US$4,3 miliar dan pinjaman Export Credit Agency (ECA) senilai US$3,1 miliar.

“Nanti mudah-mudahan bisa diselesaikan secara tuntas. Supaya progress-nya bisa dijaga. Jadi, proyek ini kan vital, karena bisa naikin kapasitas proyek-proyek,” jelas Arifin.

Pada tahun 2023, Indonesia mengimpor BBM sebanyak 26,8 juta Kilo Liter (KL). Dengan keberhasilan RDMP Balikpapan ini, nantinya jumlah produksi dalam negeri akan lebih banyak daripada impor.

“Kalau proyek ini jadi kita itu domestik sudah mayoritas, sudah besar. Tapi kalau tidak ada proyek ini, kita itu minoritas. 60 persen nanti impor semua,” jelas Arifin.

Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Taufik Adityawarman merinci, saat ini progres mencapai 91,6 persen dan ditargetkan pada akhir tahun 2024 mencapai 96 persen.

Baca juga  Harga Emas Turun, Toko Emas Kebanjiran Pembelian, Ini Harganya

“Itu yang secara kontraktual, berarti kita masih punya waktu sampai September 2025 untuk menyelesaikan sampai 100 persen,” jelasnya.

Standart Euro V yang diterapkan di RDMP Balikpapan, Taufik melanjutkan, Kilang ini dapat menghasilkan produk Low Sulphur Fuel Oil (LFSO) untuk diesel.

“Kalau di kilang ini bisa kita jadikan produk yang namanya LFSO, itu biasanya untuk marine fuel, bahan raping kapal gitu ya. Nah, itu kita sudah bisa menghasilkan bahan bakar Low Sulphur untuk marine fuel,” jelas Taufik.

Untuk minyak mentah dari Kilang ini, Taufik menyebut, 30 sampai 40 persen masih impor dan sisanya berasal dari domestik sekitar Jawa dan Kalimantan.

“Kalimantan kita punya Badak kondensat, Tanjung, terus juga dari Sangata, dari Tarakan, dari melalui kapal maupun perpipaan. Kita punya pipa kurang lebih jarak sekitar 200 km lah ya. Dari Tanjung 240 km,” ujarnya.

Baca juga  3 Lapangan Ini Akan Jadi Sumber Gas Jumbo RI Pada 2028

“Kita coba mengutilize crude-crude lokal. Karena crude lokal kadang mungkin dari pengapalannya kesulitan, karena harus dikumpulkan kan ya, karena kapasitasnya kecil. Kalau di Kalimantan kan lebih terkenal gas,” tambahnya. (LBY)